Sunday, December 9, 2012

Kepergian Ayah



Teringat peristiwa 9 tahun yang lalu, tepatnya saat aku masih duduk di bangku kelas 2 SD yaitu ketika umurku sekitar 7 tahun.Peristiwa yang tak akan ku lupakan sepanjang hidupku, dimana saat itu aku kehilangan orang yang sangat aku sayangi.Ayahku, dialah sosok orang yang begitu memanjakanku hingga terkadang kakakku merasa iri padaku.Di umurku yang masih sangat membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tua, harus merasakan kesedihan yang mendalam karena peristiwa tersebut.

Sabtu,26 Maret 2005
Hari ini adalah hari Sabtu, seperti biasa pada hari pekan seperti ini ayahku harus pergi ke Kota Batu untuk menyerahkankan laporan hasil kerja selama seminggu ini.Pagi-pagi sekali dia membangunkanku untuk mengajak sholat Shubuh bersama ibu dan kakakku.Sebenarnya masih malas untuk beranjak dari tempat tidur, tapi ini adalah panggilan ibadah jadi ku paksa untuk bangun.
Seusai sholat, ayahku mengatakan jika pagi ini beliau akan berangkat ke Kota Batu bersama pakde Mahmud, teman kerja ayahku tapi sudah dianggap seperti saudara.Ayah bertanya padaku ingin dibelikan oleh-oleh apa nanti ketika pulang.
Dan dengan bersemangat aku menjawab,”Tamiya seperti punya Rino yah”.Rino adalah teman sekelas sekaligus tetangga dekat rumahku, aku sangat ingin memiliki tamiya seperti miliknya karena pada saat ini tamiya sedang ngetrend di kalangan anak-anak.
Ayahku tersenyum dan berkata,”Asal kamu bisa jadi anak yang berbakti, pandai dan bisa menjaga ibumu Ayah akan membelikanmu tamiya”.Aku tidak mengerti mengapa ayahku berkata demikian, tapi aku tidak begitu menghiraukannya lagi karena aku merasa senang akan dibelikan oleh-oleh.Ku lihat kakakku manyun, mungkin dia merasa cemburu padaku karena Ayah hanya menanyaiku.Tetapi kemudian Ayah berjalan ke arahnya dan bertanya pertanyaan yang sama.Ku dengar kakakku hanya meminta dibelikan kaos Arema saja.
Ku dengar juga ayah berkata,”Tapi janji dulu akan menjaga ibu dan adikmu ketika kamu dewasa kelak”.Lagi-lagi ayah mengatakan kata yang tidak beda jauh dengan apa yang dikatakannya tadi denganku, aku semakin tak mengerti.
Pukul 06.00 Ayah berpamitan kepada kami sambil mengantarkan ke sekolah.
-------
Aku terbangun dari tidurku, ku lihat jam dinding menunjukkan pukul 22.45.Sewaktu aku tidur tadi aku bermimpi sedang berlibur ke pantai bersama keluarga.Saat aku berenang tiba-tiba ombak besar membawaku ke tengah, aku meminta tolong dan ayahku segera berenang menghampiriku.Lalu aku digendong menuju ke tepi, namun tiba-tiba kaki ayahku mengalami kram dan naasnya ombak besar datang dan menyeret ayahku ke tengah laut hingga tak kelihatan lagi.Aku tidak berfirasat apapun tentang mimpiku ini, ku anggap hanya bunga tidur saja.
Aku berjalan keluar kamar menuju ke dapur karena aku merasa sangat haus.Ku lihat ibu berjalan mondar mandir di dekat pintu, lalu aku pun bertanya,”Ibu nggak tidur, apa ayah belum pulang?”
Ibuku menjawab,”Belum fil, ibu khawatir dengan ayahmu.Apalagi sudah berkali-kali ibu coba telfon tapi nggak diangkat”.
Saat aku berada di dapur, aku mendengar handphone ibu berdering dan ibu segera menjawab telfonnya.Dan terkejutnya aku, tiba-tiba ibuku mengucap “Inalillahi wa innailaihi roji’un”.Seketika itu juga aku berlari ke arahnya, aku bertanya pada ibu apa yang terjadi.
”Ayah kecelakaan fil dan dia sudah meninggal dunia”,kata Ibu.Perlahan air matanya menetes dan tubuhnya lemas bersimpuh di lantai.Sesaat aku hanya terbengong mendengar ucapan ibu, seakan tidak percaya dengannya.Aku mencoba memapah ibu ke sofa, kemudian aku berjalan ke kamar kakak.Disana aku membangunkannya dan kucoba memberitahu kalau ayah telah tiada.
“Kamu jangan bohongin kakak, bilang aja kalau membangunkanku agar aku mengantarkan ke kamar mandi”,jawab kakakku tak percaya.
Aku mencoba menjelaskan padanya dan akhirnya dia mau keluar walaupun sebenarnya dia masih belum percaya.Di luar ibu menangis dan kakakku bertanya padanya apa yang terjadi.Setelah ibu memberitahu, dia berdiri kemudian berkata “Aku akan ke rumah Pak Komar (Ketua RT) untuk memberitahunya”.
Ku lihat kakakku meneteskan air mata namun dengan cepat dia mengusapnya.Sebenarnya kakakku adalah sosok orang yang berwatak keras, cuek dan paling anti dengan yang namanya nangis.Tapi sekali ini ku lihat air matanya mengalir karena begitu terpukulnya dia atas kejadian ini.Aku menangis terisak-isak di pangkuan ibu, dia membelai rambutku mencoba menenangkanku walaupun aku tahu kalau sebenarnya dia tak kuasa menahan air matanya.
Tak lama kemudian kakakku datang dengan beberapa orang tetangga.Salah seorang tetangga mendekati ibuku sambil berkata “Yang tabah ya bu”.
-------
  Hari ini rumahku sangat ramai kedatangan para tetangga, keluarga, serta teman kerja ayahku yang bertakziah atas meninggalnya ayahku.Tepat pukul 04.00 terdengar sirine ambulance yang kemudian berhenti di depan rumahku.Jenazah ayahku tiba, ku lihat ibuku berusaha mendekati ambuance dengan dipapah oleh tetangga.Saat jenazah dikeluarkan dari ambulance ibuku tak sadarkan diri, tak kuasa aku melihat keadaan itu aku kasihan dengan keadaan ibuku.
Saat jenazah sudah berada di dalam rumah, ibuku duduk di sampingnya setelah beliau sadar dari pingsan.Perlahan ibu membuka kain putih yang menutupi wajah ayah, wajah yang putih pucat itu beliau pandangi dalam-dalam.Kemudian ibu memeluk tubuh ayah sambil menangis terisak-isak.Aku mencoba memandang wajah ayah, ku pandangi orang yang berambut ikal dan berkumis tipis itu.Aku berharap beliau bangun dan memberikan senyum padaku.Ku kecup keningnya, kecupan yang terakhir sebagai tanda perpisahan.Sedangkan kakakku hanya menangis di samping jenazah kakakku.
Setelah jenazah ayahku dimandikan dan disholatkan, para tetangga langsung membopong tubuh ayahku dan memasukannya ke dalam ambulance.Kami akan membawa jenazah ayahku ke Malang tepatnya desa Sumbermanjing Kulon.Ayahku akan dimakamkan disana karena dulu ayahku pernah meminta kepada ibbbu kalau beliau meninggal ingin dimakamkan disana, di samping makam kakek dan nenek.
Setelah semua siap, kami berangkat ke Kota Malang.Di perjalanan tiada sepatah katapun yang keluar dari mulut ibu, dia hanya diam dan kadang menitikan air mata.Macetnya jalanan menyebabkan kami lama sampai di tujuan.
Akhirnya pada pukul 10.30 kami sampai tujuan, disana tetangga telah menyambut kedatangan kami.Jenazah ayah dikeluarkan dari mobil ambulance, beberapa tetangga membantu untuk memasukkannya ke dalam rumah.Hanya sekitar 10 menit jenazah ayah diistirahatkan di rumah, karena saat ini juga beliau harus segera dimakamkan karena factor cuaca yang saat itu sangat terik.
Ibu tidak ikut mengantarkan jenazah ayah ke tempat pembaringan terakhirnya karena fisik ibu yang lemah akibat tadi beliau beberapa kali pingsan.Sambil menyerukan lafadz “Laa illaahailallah” di sepanjang jalan menuju pemakaman, kakakku merangkul pundakku.
Sesampainya di pemakaman, jenazah ayah diangkat kemudian dimasukkan ke liang lahat yang sebelumnya telah disiapkan.Kemudian Om Lukman meminta kakakku untuk turun ke liang lahat dan mengumandangkan adzan di dekat jenazah ayahku, ku lihat saat mengumandangkan adzan kakak menitikan air mata.Setelah itu, tubuh ayahku perlahan-lahan ditutupi oleh tanah hingga tidak kelihatan lagi.Aku membantu menaburkan bunga di atas makam ayah.
Setelah acara pemakaman selesai, satu persatu orang yang ikut dalam acara tersebut meninggalkan tempat.Sebelum pulang ke rumah ku sempatkan untuk mencium batu nisan yang bertuliskan Haris Maulana itu.
Sesampainya di rumah , ku lihat pakdhe Mahmud dan istrinya sedang berbincang dengan ibu.Aku dan kakak menyalaminya kemudian duduk di sebelah ibu.Pakdhe Mahmud menceritakan penyebab kecelakaan yang dialami almarhum ayah dengan beliau.Menurut ceritanya, kecelakaan itu terjadi ketika motor yang dikendarai beliau dan almarhum ayah melintas di perlintasan rel kereta api tiba-tiba ditabrak dari belakang oleh minibus yang melaju kencang dan pada saat yang bersamaan di depan motor beliau ada truk tronton yang bermuatan kayu.Pakdhe Mahmud berusaha menyeimbangkan laju motornya namun naasnya usahanya gagal dan akhirnya  motor oleng.Tubuh ayahku yang terpental ke jalanan langsung ditabrak oleh minibus tadi.Pendarahan yang parah mengakibatkan ayahku meninggal di TKP, sedangkan pakdhe Mahmud mengalami patah tulang ringan pada bagian kaki dan beberapa luka gores di tangannya.
Pakdhe Mahmud memberikan kaos Arema dan tamiya yang kemarin dijanjikan oleh ayah.Aku dan kakak menerimanya,.
Dalam hatiku berkata, “Terima kasih ayah telah memenuhi keinginanku dan terima kasih atas kasih sayangmu selama ini.Aku berjanji akan menjaga ibu, seperti pesanmu kemarin.Aku akan sangat merindukanmu”.
Ternyata mimpiku di malam itu adalah pertanda bahwa aku benar-benar akan kehilangan ayah.

SELESAI

No comments:

Post a Comment