Teringat peristiwa 9 tahun yang lalu, tepatnya saat aku
masih duduk di bangku kelas 2 SD yaitu ketika umurku sekitar 7 tahun.Peristiwa
yang tak akan ku lupakan sepanjang hidupku, dimana saat itu aku kehilangan
orang yang sangat aku sayangi.Ayahku, dialah sosok orang yang begitu
memanjakanku hingga terkadang kakakku merasa iri padaku.Di umurku yang masih
sangat membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tua, harus merasakan kesedihan
yang mendalam karena peristiwa tersebut.
Sabtu,26 Maret 2005
Hari ini adalah hari Sabtu, seperti biasa pada hari pekan
seperti ini ayahku harus pergi ke Kota Batu untuk menyerahkankan laporan hasil
kerja selama seminggu ini.Pagi-pagi sekali dia membangunkanku untuk mengajak
sholat Shubuh bersama ibu dan kakakku.Sebenarnya masih malas untuk beranjak
dari tempat tidur, tapi ini adalah panggilan ibadah jadi ku paksa untuk bangun.
Seusai sholat, ayahku mengatakan jika pagi ini beliau akan
berangkat ke Kota Batu bersama pakde Mahmud, teman kerja ayahku tapi sudah
dianggap seperti saudara.Ayah bertanya padaku ingin dibelikan oleh-oleh apa
nanti ketika pulang.
Dan dengan bersemangat aku menjawab,”Tamiya seperti punya Rino
yah”.Rino adalah teman sekelas sekaligus tetangga dekat rumahku, aku sangat
ingin memiliki tamiya seperti miliknya karena pada saat ini tamiya sedang ngetrend di kalangan anak-anak.
Ayahku tersenyum dan berkata,”Asal kamu bisa jadi anak yang
berbakti, pandai dan bisa menjaga ibumu Ayah akan membelikanmu tamiya”.Aku
tidak mengerti mengapa ayahku berkata demikian, tapi aku tidak begitu
menghiraukannya lagi karena aku merasa senang akan dibelikan oleh-oleh.Ku lihat
kakakku manyun, mungkin dia merasa cemburu padaku karena Ayah hanya
menanyaiku.Tetapi kemudian Ayah berjalan ke arahnya dan bertanya pertanyaan
yang sama.Ku dengar kakakku hanya meminta dibelikan kaos Arema saja.
Ku dengar juga ayah berkata,”Tapi janji dulu akan menjaga
ibu dan adikmu ketika kamu dewasa kelak”.Lagi-lagi ayah mengatakan kata yang
tidak beda jauh dengan apa yang dikatakannya tadi denganku, aku semakin tak
mengerti.
Pukul 06.00 Ayah berpamitan kepada kami sambil mengantarkan
ke sekolah.
-------
Aku terbangun dari tidurku, ku lihat jam dinding menunjukkan
pukul 22.45.Sewaktu aku tidur tadi aku bermimpi sedang berlibur ke pantai
bersama keluarga.Saat aku berenang tiba-tiba ombak besar membawaku ke tengah,
aku meminta tolong dan ayahku segera berenang menghampiriku.Lalu aku digendong
menuju ke tepi, namun tiba-tiba kaki ayahku mengalami kram dan naasnya ombak besar
datang dan menyeret ayahku ke tengah laut hingga tak kelihatan lagi.Aku tidak
berfirasat apapun tentang mimpiku ini, ku anggap hanya bunga tidur saja.
Aku berjalan keluar kamar menuju ke dapur karena aku merasa
sangat haus.Ku lihat ibu berjalan mondar mandir di dekat pintu, lalu aku pun
bertanya,”Ibu nggak tidur, apa ayah belum pulang?”
Ibuku menjawab,”Belum fil, ibu khawatir dengan
ayahmu.Apalagi sudah berkali-kali ibu coba telfon tapi nggak diangkat”.
Saat aku berada di dapur, aku mendengar handphone ibu berdering
dan ibu segera menjawab telfonnya.Dan terkejutnya aku, tiba-tiba ibuku mengucap
“Inalillahi wa innailaihi roji’un”.Seketika itu juga aku berlari ke arahnya,
aku bertanya pada ibu apa yang terjadi.
”Ayah kecelakaan fil dan dia sudah meninggal dunia”,kata
Ibu.Perlahan air matanya menetes dan tubuhnya lemas bersimpuh di lantai.Sesaat
aku hanya terbengong mendengar ucapan ibu, seakan tidak percaya dengannya.Aku
mencoba memapah ibu ke sofa, kemudian aku berjalan ke kamar kakak.Disana aku
membangunkannya dan kucoba memberitahu kalau ayah telah tiada.
“Kamu jangan bohongin kakak, bilang aja kalau membangunkanku
agar aku mengantarkan ke kamar mandi”,jawab kakakku tak percaya.
Aku mencoba menjelaskan padanya dan akhirnya dia mau keluar
walaupun sebenarnya dia masih belum percaya.Di luar ibu menangis dan kakakku
bertanya padanya apa yang terjadi.Setelah ibu memberitahu, dia berdiri kemudian
berkata “Aku akan ke rumah Pak Komar (Ketua RT) untuk memberitahunya”.
Ku lihat kakakku meneteskan air mata namun dengan cepat dia
mengusapnya.Sebenarnya kakakku adalah sosok orang yang berwatak keras, cuek dan
paling anti dengan yang namanya nangis.Tapi sekali ini ku lihat air matanya
mengalir karena begitu terpukulnya dia atas kejadian ini.Aku menangis
terisak-isak di pangkuan ibu, dia membelai rambutku mencoba menenangkanku
walaupun aku tahu kalau sebenarnya dia tak kuasa menahan air matanya.
Tak lama kemudian kakakku datang dengan beberapa orang
tetangga.Salah seorang tetangga mendekati ibuku sambil berkata “Yang tabah ya
bu”.
-------
Hari ini rumahku
sangat ramai kedatangan para tetangga, keluarga, serta teman kerja ayahku yang
bertakziah atas meninggalnya ayahku.Tepat pukul 04.00 terdengar sirine
ambulance yang kemudian berhenti di depan rumahku.Jenazah ayahku tiba, ku lihat
ibuku berusaha mendekati ambuance dengan dipapah oleh tetangga.Saat jenazah
dikeluarkan dari ambulance ibuku tak sadarkan diri, tak kuasa aku melihat
keadaan itu aku kasihan dengan keadaan ibuku.
Saat jenazah sudah berada di dalam rumah, ibuku duduk di
sampingnya setelah beliau sadar dari pingsan.Perlahan ibu membuka kain putih
yang menutupi wajah ayah, wajah yang putih pucat itu beliau pandangi
dalam-dalam.Kemudian ibu memeluk tubuh ayah sambil menangis terisak-isak.Aku
mencoba memandang wajah ayah, ku pandangi orang yang berambut ikal dan berkumis
tipis itu.Aku berharap beliau bangun dan memberikan senyum padaku.Ku kecup
keningnya, kecupan yang terakhir sebagai tanda perpisahan.Sedangkan kakakku
hanya menangis di samping jenazah kakakku.
Setelah jenazah ayahku dimandikan dan disholatkan, para
tetangga langsung membopong tubuh ayahku dan memasukannya ke dalam ambulance.Kami
akan membawa jenazah ayahku ke Malang tepatnya desa Sumbermanjing Kulon.Ayahku
akan dimakamkan disana karena dulu ayahku pernah meminta kepada ibbbu kalau
beliau meninggal ingin dimakamkan disana, di samping makam kakek dan nenek.
Setelah semua siap, kami berangkat ke Kota Malang.Di
perjalanan tiada sepatah katapun yang keluar dari mulut ibu, dia hanya diam dan
kadang menitikan air mata.Macetnya jalanan menyebabkan kami lama sampai di
tujuan.
Akhirnya pada pukul 10.30 kami sampai tujuan, disana
tetangga telah menyambut kedatangan kami.Jenazah ayah dikeluarkan dari mobil
ambulance, beberapa tetangga membantu untuk memasukkannya ke dalam rumah.Hanya
sekitar 10 menit jenazah ayah diistirahatkan di rumah, karena saat ini juga
beliau harus segera dimakamkan karena factor cuaca yang saat itu sangat terik.
Ibu tidak ikut mengantarkan jenazah ayah ke tempat
pembaringan terakhirnya karena fisik ibu yang lemah akibat tadi beliau beberapa
kali pingsan.Sambil menyerukan lafadz “Laa illaahailallah” di sepanjang jalan
menuju pemakaman, kakakku merangkul pundakku.
Sesampainya di pemakaman, jenazah ayah diangkat kemudian
dimasukkan ke liang lahat yang sebelumnya telah disiapkan.Kemudian Om Lukman
meminta kakakku untuk turun ke liang lahat dan mengumandangkan adzan di dekat
jenazah ayahku, ku lihat saat mengumandangkan adzan kakak menitikan air
mata.Setelah itu, tubuh ayahku perlahan-lahan ditutupi oleh tanah hingga tidak
kelihatan lagi.Aku membantu menaburkan bunga di atas makam ayah.
Setelah acara pemakaman selesai, satu persatu orang yang
ikut dalam acara tersebut meninggalkan tempat.Sebelum pulang ke rumah ku
sempatkan untuk mencium batu nisan yang bertuliskan Haris Maulana itu.
Sesampainya di rumah , ku lihat pakdhe Mahmud dan istrinya
sedang berbincang dengan ibu.Aku dan kakak menyalaminya kemudian duduk di
sebelah ibu.Pakdhe Mahmud menceritakan penyebab kecelakaan yang dialami
almarhum ayah dengan beliau.Menurut ceritanya, kecelakaan itu terjadi ketika
motor yang dikendarai beliau dan almarhum ayah melintas di perlintasan rel
kereta api tiba-tiba ditabrak dari belakang oleh minibus yang melaju kencang
dan pada saat yang bersamaan di depan motor beliau ada truk tronton yang
bermuatan kayu.Pakdhe Mahmud berusaha menyeimbangkan laju motornya namun
naasnya usahanya gagal dan akhirnya
motor oleng.Tubuh ayahku yang terpental ke jalanan langsung ditabrak
oleh minibus tadi.Pendarahan yang parah mengakibatkan ayahku meninggal di TKP,
sedangkan pakdhe Mahmud mengalami patah tulang ringan pada bagian kaki dan
beberapa luka gores di tangannya.
Pakdhe Mahmud memberikan kaos Arema dan tamiya yang kemarin
dijanjikan oleh ayah.Aku dan kakak menerimanya,.
Dalam hatiku berkata, “Terima kasih ayah telah memenuhi
keinginanku dan terima kasih atas kasih sayangmu selama ini.Aku berjanji akan
menjaga ibu, seperti pesanmu kemarin.Aku akan sangat merindukanmu”.
Ternyata mimpiku di malam itu adalah pertanda bahwa aku
benar-benar akan kehilangan ayah.
SELESAI
No comments:
Post a Comment